Saturday, February 3, 2007

Hidup Ini Indah Akan Tetapi Ada Kalanya Kita Tidak Bisa Menikmatinya

Dan tidak seperti biasanya, saya harus mengunjungi teman lama pada malam hari pukul 9 malam-an, saat itu cuaca mendung sesekali disertai rintik-rintik hujan.


Sesampai ditempatnya aku harus menunggunya beberapa lama, karena dia tidak ada ditempat. Sedikit kurang sabar dalam menanti, ada kegamangan untuk terus bertahan, akhirnya kuputuskan untuk pergi saja. Mungkin dia lagi banyak urusan.


Dalam langkah kepastianku untuk pergi, tepat didepan pintu halaman rumahnya. Kita dipertemukan nasib, dia muncul dari gang kecil menuju rumahnya, aku sudah tidak mengingat lagi pukul berapa. Yang aku tahu, aku sudah merasa jenuh menunggunya.
Saat pertama kali memasuki ruanga yang dulu sering ku singgahi, kali ini terasa asing. Sepertinya tak akan ada pembicaraan tanpa ku mengambil inisiatif untuk membuka obrolan, memang seperti itulah aku dan dia. Selalu diam.


Diluar kelumrahan saat mata saya sibuk memperhatikan berbagai aksesoris kamarnya, kebanyakan benda baru hanya sisir merah bulat yang tersisa. Dia memulai ceritanya dengan antusias " saya mencintainya, saya percaya bahwa saya memiliki intuisi yang dapat dipercaya untuk bisa menjalani kebersamaan kembali dengannya".
Sejujurnya malam itu, sebelumnya aku tidak faham mengenai apa yang kamu maksudkan padaku, mengenai siapa orangnya, tapi aku faham mengenai topik apa yang kamu bicarakan. Cinta, cintamu pada seseorang yang terus memberikan alasan bagimu untuk "bersemangat" menjalani hari-harimu.


Kawan terimakasih untuk dialog malam itu, meskipun kita saling mengakui bahwa apa yang kita miliki untuk memahami masalah cintamu tidak seluruhnya benar dalam memberikan konklusi dialog di malam gerimis. Kenapa aku harus mengatakan terimakasih untuk "masalahmu", alasanya adalah sepele. Sehabis dari tempatmu aku tidak bisa tidur, sepanjang larut malam, terus-menerus memikirkan dan meresapi apa-apa yang menjadi dialog kita. Cinta dan keyakinanmu dalam tataran idea untuk bisa terus memberikan ekspektasi dalam dunia riilmu, aku faham kalian adalah manusia yang saling mencintai bertahun-tahun lamanya, dan menurut kelumrahan logika yang saya fahami cinta kalian adalah telah memiliki segala-galanya, meski saat ini dunia kebersamaan kalian ditemboki oleh awan pekat.


Awan pekat itu tidak penting yang terpenting adalah usaha kalian me-recoveri hubungan dari kebersamaan cinta kalian dan saat ini kalian telah memulainya. Dan untuk keadilaan mengenai beban-beban dari cintamu, saya lebih untuk tidak mau memahaminya dengan objektif. Karena saya percaya cinta itu adalah buta, tepat seperti apa yang kamu pahamkan padaku. Saya sungguh-sungguh menyukai keyakinanmu untuk bisa saling berbagi dengannya. Terlebih waktu telah menguji dan menumbuh kembangkan tradisi kebersamaan kalian, saya yakin kau atau dia akan sangat tersiksa bila mendapatkan hidupmu- hidupnya tidak baik-baik saja. Sebut saja cinta itu tidak hanya memiliki bentuk formal, akan tetapi isi atau bentuk materiilnya juga. Kenapa seperti itu, saya memiliki pengalaman empiris yang mungkin bisa kamu fahami, bahwa saya juga pernah mencintai seseorang dan itu tidak bisa mencapai bentuk formalnya, dengan hanya memiliki bentuk materiil untuk terus mencintainya, contoh: saat ini saya menjalani realita yang jauh dengan dunia idea, merelakan sebisa mungkin pilihan hidupnya, meski itu menyakitkan. Saya tahu dan saya faham sebaliknya dia, bahwa saya mencintainya, akan tetapi kesadaran yang dia bangun ataupun yang saya bangun belum mampu meyakinkan akan hidup kita sehingga yang ada koyak-mengkoyak keinginan untuk membangun kebersamaan kita, bahwa kebersamaan kita harus dihentikan. Yang pada akhirnya dia memilih untuk mematangkan hidupnya dengan orang lain.


Sejauh apapun ketika dilihat dari sisi-sisi normatifnya, kenyataan cinta yang saya ini tidak ada hal baiknya, sungguh jauh dari nasibmu. Secara logika kamu bisa melakukan kebaikan apa-pun yang kamu inginkan bersama pasanganmu. Saya tidak bisa melakukan itu dengan orang yang saya cintai. Karena dia telah memilih pasangan untuk membentuk kebahagian-kebahagian yang dia inginkan, itu tidak dengan saya. Tapi tidak seperti itu, saya faham bahwa saya tidak lagi memilikinya, berkeluh-kesah, berbagi suka-duka, bermanja-manjaan, tidak lagi bisa saya berikan padanya. Tapi ada hal yang tidak bisa saya sangkal bahwa banyak bagian dari hidup saya ini yang masih tergerakkan olehnya.


Tadi pagi saya terlambat kerja, selama empat jam. Bukankah itu hal gila, hanya karena saya memikirkan dan ”mengagumi” ketangguhanmu dalam bertahan untuk berjalan terus diatas keyakinan, bahwa kamu akan bisa berbahagia dengan pasanganmu. Saya berdoa untukmu malam itu, agar Tuhan tidak salah memberikan bentuk nasib mengenai perasaamu dengan cintamu, dan sebaliknya. Semoga semuanya baik-baik saja, saya sudah memutuskan bahwa besok saya akan ketemu dengan keluarga saya sebelumnya akan saya sempatkan berkunjung kerumahmu. Kenapa, tidak semata-mata saya ingin menemuimu lebih karena kotamu itu, memberikan kenangan yang teramat manis saat permulaan saya mulai membangun kepedulian, kasih sayang, dengan orang yang selalu saya fikirkan. Selamat datang Boetenzorg, Bogor yang mungil dan manis saya akan kembali menyisirmu, menguak kembali kenangan yang tesimpan rapi disepanjang jalanmu.




0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home

  • Civil Code KUHPerdata
  • Penal Code KUHP
  • Constitution's