Kunjungan Hangat
10 februari 2007 pukul o9.00 wib, saat baru terbangun dari tidur panjang, padahal saya tidur pukul 01.00, konklusinya adalah saya memang geblek, meski saya tahu pukul 07.00 saya harus bekerja. Malam panjang telah terlewatkan dengan riang, seingatku tidur kali ini benar-benar sleep lightly, lelap banget tidak sekalipun saya merasa terjaga. Kombinasi lelah dari aktivitas hari kemarin dan keinginan menikmati tidur dengan sempurna memberikan hasil tidur sempurna.
Hari yang teramat "aneh" untuk mahasiswa, dimana mahasiswanya baru bangun tidur dan seorang dosen terlihat rapi dan dendy, mendatangi tempat tinggal mahasiswanya untuk menanyakan beberapa perihal mengenai kondisi akademik mahasiswanya dan hal yang mungkin dianggap remeh-temeh. Seperti menanyakan kabar, kesibukan apa, dan hal-hal lain yang bersifat rutinitas. Kebetulan ditempat saya tinggal banyak pula mantan mahasiswanya, dan seorang teman akrabnya yang juga alumni dari tempat tinggalku, pertemuan yang menyenangkan, atau mungkin menyempatkan diri berkunjung mumpung melewati tempat ini dalam menuju tempat sebenarnya. What ever-lah, yang jelas ini manis.
Beliau adalah dosen wali saya, yang mengajar matakuliah logika hukum dan Pengantar Ilmu Hukum, untuk mata kuliah terakhir ini saya tidak diajar olehnya, kalau saja dia yang mengajar mungkin akan banyak hal indah yang saya reguk, dosen muda untuk ukuran dosen di Fakultas Hukum Unpad. Permulaan dari perkenalan kita sebetulnya lebih bisa dianggap sebagai pertemuan biasa saja, konteks interaksi dosen wali dan mahasiswanya (tidak ada yang istimewa),dia adalah dosen muda (lulusan th.91) yang terlihat begitu eksentrik dan saya adalah mahasiswanya yang pernah gagal kuliah di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, dengan alasan apapun. Selebihnya saya adalah mahasiswa yang selalu "kurang bisa memahami metode belajar" yang beliau pergunakan, dari hal itulah afirmasi hubungan kita bertumbuh.
Dosen yang kreatif, selalu menuntut mahasiswanya memaksimalkan penalaran-penalaran. saat mengikuti kuliahnya. Hal "lucu" yang pernah saya dapatkan dari dia adalah saat beliau membicarakan kehidupan anak muda, mengenai pasangan (pacaran) dalam kuliah itu beliau mempertanyakan pandangan mahasiswanya mengenai kenapa perbedaan kondisi yang dimiliki manusia muda adalah hal selalu ada , ada yang berpasangan (pacaran) dan ada yang tidak, benarkah bentuk formal seperti itu dipengaruhi oleh prinsip (pemahaman das Sollen) dari objek yang berkaitan dengan cara berfikir objek.
Ruang kuliah menjadi mirip “pasar” suara bersliweran, saya sangat masih ingat saat ditanya mengenai hal itu? “berpasangan (pacaran) atau tidak adalah pilihan bebas seseorang dalam menjalani hidupnya, dimana setiap manusia memiliki free will (vrije wil, kemauan bebas) yang tidak harus dipermasalahkan sejauh hal tersebut tidak menimbulkan perbuatan melawan hukum”, lalu beliau memotong dengan lugas, meskipun saya masih memiliki runutan dari pernyataan yang ingin saya kemukakan, sangat prematur dimana pernyataan itu belum tuntas dan harus diakhiri, idealnya saya ingin menyusun penyataan dengan sedikit celah yang bisa dipermasalahkan olehnya. “Saya suka logika kamu, ngomong-ngomong kamu berpacaran atau tidak”? “ tidak pak”. “ Pantas kamu sungguh-sungguh memberikan argumentasi yang diplomatis, adalah cara untuk menutupi kekurangan ya”. Seluruh ruangan meledak menertawakan hal dianggapnya pantas untuk ditertawakan, ( dalam hati, dongkol bukan main. Dosen ini maunya apa sih???).
Dari permulaan seperti itulah, setiap ada kuliahnya saya selalu memberikan “wacana tandingan” dari tema yang kita pelajari, dan sekali lagi beliau membuktikan bahwa dia adalah dosen yang sangat apreciet terhadap ide dan gagasan mahasiswanya dalam dialog untuk perkuliahnya, semau apapun mahasiswanya membawa dialog kuliahnya dia akan berkemauan untuk memahamii alur berfikir mahasiswanya, dan ada saat-saat dimana logika kita terkoreksi oleh dialog. Untuk menyadari secara sungguh-sungguh bahwa argumentasi dari logika yang saya bangun kurang sempurna (salah) tanpa kita harus merasa malu atau dipermalukan, anda paling bisa memperlakukan mahasiswa seperti itu, nice. Terimakasih bos anda benar-benar memiliki penghargaan humandignity yang konkrit untuk mahasiswa.
Hidup Berfikir, Hidup Kebebasan berfikir, Hidup Penghormatan Berfikir, anda selalu memahamkan kepada kita bahwa jangan pernah takut untuk orisinilitas berfikir yang kita hasilkan meskipun ketika hal itu harus dihadapkan dengan kondisi yang kita pahami bahwa lawan kita adalah orang yang telah jelas memiliki kwalitas berfikir. Intinya jangan malu, jangan takut. Ha2x… saya selalu ingin tertawa-tawa bersama bapak, sehat terus ya pak, dan saya doakan anda segera menikah, karena menikah adalah kesempurnaan :-). Dan saya akan memikirkan kata-kata itu, :-) I love you so much, but I can lie love you,(Legal Opinio), sebaiknya itu ditafsirkan dan difahami seperti apa :-).
Hari yang teramat "aneh" untuk mahasiswa, dimana mahasiswanya baru bangun tidur dan seorang dosen terlihat rapi dan dendy, mendatangi tempat tinggal mahasiswanya untuk menanyakan beberapa perihal mengenai kondisi akademik mahasiswanya dan hal yang mungkin dianggap remeh-temeh. Seperti menanyakan kabar, kesibukan apa, dan hal-hal lain yang bersifat rutinitas. Kebetulan ditempat saya tinggal banyak pula mantan mahasiswanya, dan seorang teman akrabnya yang juga alumni dari tempat tinggalku, pertemuan yang menyenangkan, atau mungkin menyempatkan diri berkunjung mumpung melewati tempat ini dalam menuju tempat sebenarnya. What ever-lah, yang jelas ini manis.
Beliau adalah dosen wali saya, yang mengajar matakuliah logika hukum dan Pengantar Ilmu Hukum, untuk mata kuliah terakhir ini saya tidak diajar olehnya, kalau saja dia yang mengajar mungkin akan banyak hal indah yang saya reguk, dosen muda untuk ukuran dosen di Fakultas Hukum Unpad. Permulaan dari perkenalan kita sebetulnya lebih bisa dianggap sebagai pertemuan biasa saja, konteks interaksi dosen wali dan mahasiswanya (tidak ada yang istimewa),dia adalah dosen muda (lulusan th.91) yang terlihat begitu eksentrik dan saya adalah mahasiswanya yang pernah gagal kuliah di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, dengan alasan apapun. Selebihnya saya adalah mahasiswa yang selalu "kurang bisa memahami metode belajar" yang beliau pergunakan, dari hal itulah afirmasi hubungan kita bertumbuh.
Dosen yang kreatif, selalu menuntut mahasiswanya memaksimalkan penalaran-penalaran. saat mengikuti kuliahnya. Hal "lucu" yang pernah saya dapatkan dari dia adalah saat beliau membicarakan kehidupan anak muda, mengenai pasangan (pacaran) dalam kuliah itu beliau mempertanyakan pandangan mahasiswanya mengenai kenapa perbedaan kondisi yang dimiliki manusia muda adalah hal selalu ada , ada yang berpasangan (pacaran) dan ada yang tidak, benarkah bentuk formal seperti itu dipengaruhi oleh prinsip (pemahaman das Sollen) dari objek yang berkaitan dengan cara berfikir objek.
Ruang kuliah menjadi mirip “pasar” suara bersliweran, saya sangat masih ingat saat ditanya mengenai hal itu? “berpasangan (pacaran) atau tidak adalah pilihan bebas seseorang dalam menjalani hidupnya, dimana setiap manusia memiliki free will (vrije wil, kemauan bebas) yang tidak harus dipermasalahkan sejauh hal tersebut tidak menimbulkan perbuatan melawan hukum”, lalu beliau memotong dengan lugas, meskipun saya masih memiliki runutan dari pernyataan yang ingin saya kemukakan, sangat prematur dimana pernyataan itu belum tuntas dan harus diakhiri, idealnya saya ingin menyusun penyataan dengan sedikit celah yang bisa dipermasalahkan olehnya. “Saya suka logika kamu, ngomong-ngomong kamu berpacaran atau tidak”? “ tidak pak”. “ Pantas kamu sungguh-sungguh memberikan argumentasi yang diplomatis, adalah cara untuk menutupi kekurangan ya”. Seluruh ruangan meledak menertawakan hal dianggapnya pantas untuk ditertawakan, ( dalam hati, dongkol bukan main. Dosen ini maunya apa sih???).
Dari permulaan seperti itulah, setiap ada kuliahnya saya selalu memberikan “wacana tandingan” dari tema yang kita pelajari, dan sekali lagi beliau membuktikan bahwa dia adalah dosen yang sangat apreciet terhadap ide dan gagasan mahasiswanya dalam dialog untuk perkuliahnya, semau apapun mahasiswanya membawa dialog kuliahnya dia akan berkemauan untuk memahamii alur berfikir mahasiswanya, dan ada saat-saat dimana logika kita terkoreksi oleh dialog. Untuk menyadari secara sungguh-sungguh bahwa argumentasi dari logika yang saya bangun kurang sempurna (salah) tanpa kita harus merasa malu atau dipermalukan, anda paling bisa memperlakukan mahasiswa seperti itu, nice. Terimakasih bos anda benar-benar memiliki penghargaan humandignity yang konkrit untuk mahasiswa.
Hidup Berfikir, Hidup Kebebasan berfikir, Hidup Penghormatan Berfikir, anda selalu memahamkan kepada kita bahwa jangan pernah takut untuk orisinilitas berfikir yang kita hasilkan meskipun ketika hal itu harus dihadapkan dengan kondisi yang kita pahami bahwa lawan kita adalah orang yang telah jelas memiliki kwalitas berfikir. Intinya jangan malu, jangan takut. Ha2x… saya selalu ingin tertawa-tawa bersama bapak, sehat terus ya pak, dan saya doakan anda segera menikah, karena menikah adalah kesempurnaan :-). Dan saya akan memikirkan kata-kata itu, :-) I love you so much, but I can lie love you,(Legal Opinio), sebaiknya itu ditafsirkan dan difahami seperti apa :-).


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home