DISCLOSURE
Keterbukaan (DISCLOSURE) di pasar modal
Bola adalah hidupnya, bola adalah nafasnya. Adalah Barrir dengan nama lengkap Muhammad Barrir, sarjana ekonomi dari ESP Unpad angkatan 97. Dia adalah wartawan, salah satu wartawan berita harian di bandung. Konstruksi bayangan saya mengenai dia adalah bola, bola, bola dan Persib.
Kenapa bola? Karena dia adalah wartawan dengan kekhususan berita olah raga, dan kenapa Persib? Bahwa mengingat dia dilahirkan di satuan masyarakat yang memiliki ”loyalitas” terhadap Persib tentunya hal menyenangkan dengan pekerjaanya, meliput segala hal yang berpunya ketersangkut-pautan dengan Persib untuk disetor ke redaksi koran tempat dimana dia kerja. Kalau saya menganalogikan kondisinya dengan apa yang dia kerjakan seperti pepatah asam di gunung garam di laut. Klop.
Terlihat begitu semangatnya dia menjalani pekerjaan dari profesinya, sebenarnya orang itu saat harus berangkat meliput pertandingan Persib di Deli Serdang , dia dihadapkan kepada pilihan yang dilematis. Adalah mengikuti psikotes yang diadakan oleh KPK, atau pergi, sedikit terpengkur dan berkesah kepada temanya mengenai apa yang harus dia pilih. Tak lama kemudia dalam diamnya, dia bangkit dari kursi sebelahku untuk berbenah me-pack barang yang harus dia bawa, artinya dia telah memutuskan untuk tetap hidup dengan bola. Semoga itu jalanmu kawan. Yakin saja bahwa tak ada yang lebih baik dari pilihan yang telah kamu ambil. Orang itu hebat, bisa mengambil keputusan dengan cepat untuk menentukan hal terbaik yang harus dipilih.
Dia berangkat setelah me-pack barangnya dan sholat isya. Sekitar pukul 00, sebelum berangkat dia sempat menghawatirkan jaringan seluler Flexsi sebagai koneksi internet yang menopang kerjannya, dia minta antar ke Bandung Super Mall untuk naik bis ke bandara Soekarna-Hatta mengejar jadwal penerbangan pagi Jakarta-Banda Acheh dengan Batavia Air, pergantian menit kami melewatkan dengan menunggu jadwal bis yang membawanya ke bandara, dengan hisapan rokok dan sepiring nasi goreng untuknya, sepiring mie rebus untukku. kami bercakap-kapap mengusir kelunya malam.
Sesekali segerombolan anak muda, dan raungan motor dari club-club motor membisingkan telinga di minggu dini hari.
Dalam kepastianya mengenai apa yang telah dia putuskan, masih kulihat renungan-renungan mengenai apa yang terjadi dengan dirinya, sebuah persimpangan yang harus berani dia pilih. Saat kami harus berpisah, dia berpesan dalam setengah berbisik ” doakan Persib menang”, agar wawancaranya lancar. Dimana aku membuat candaan untuknya ”Persib menang kamu tidak bisa pulang, atau persib kalah kamu akan mendapatkan sulit untuk wawancara,tapi bisa pulang”. Lantas kami tertawa-tertawa untuk pengakhiran kita. Dia kembali lagi 4 hari kedepan, terhitung setelah tulisan ini dibuat. Ya, kawan ku doakan Persib menang agar kerjamu lancar. Selamat pagi dan selamat bekerja. Jangan lupa markisa Medan.
Bola adalah hidupnya, bola adalah nafasnya. Adalah Barrir dengan nama lengkap Muhammad Barrir, sarjana ekonomi dari ESP Unpad angkatan 97. Dia adalah wartawan, salah satu wartawan berita harian di bandung. Konstruksi bayangan saya mengenai dia adalah bola, bola, bola dan Persib.
Kenapa bola? Karena dia adalah wartawan dengan kekhususan berita olah raga, dan kenapa Persib? Bahwa mengingat dia dilahirkan di satuan masyarakat yang memiliki ”loyalitas” terhadap Persib tentunya hal menyenangkan dengan pekerjaanya, meliput segala hal yang berpunya ketersangkut-pautan dengan Persib untuk disetor ke redaksi koran tempat dimana dia kerja. Kalau saya menganalogikan kondisinya dengan apa yang dia kerjakan seperti pepatah asam di gunung garam di laut. Klop.
Terlihat begitu semangatnya dia menjalani pekerjaan dari profesinya, sebenarnya orang itu saat harus berangkat meliput pertandingan Persib di Deli Serdang , dia dihadapkan kepada pilihan yang dilematis. Adalah mengikuti psikotes yang diadakan oleh KPK, atau pergi, sedikit terpengkur dan berkesah kepada temanya mengenai apa yang harus dia pilih. Tak lama kemudia dalam diamnya, dia bangkit dari kursi sebelahku untuk berbenah me-pack barang yang harus dia bawa, artinya dia telah memutuskan untuk tetap hidup dengan bola. Semoga itu jalanmu kawan. Yakin saja bahwa tak ada yang lebih baik dari pilihan yang telah kamu ambil. Orang itu hebat, bisa mengambil keputusan dengan cepat untuk menentukan hal terbaik yang harus dipilih.
Dia berangkat setelah me-pack barangnya dan sholat isya. Sekitar pukul 00, sebelum berangkat dia sempat menghawatirkan jaringan seluler Flexsi sebagai koneksi internet yang menopang kerjannya, dia minta antar ke Bandung Super Mall untuk naik bis ke bandara Soekarna-Hatta mengejar jadwal penerbangan pagi Jakarta-Banda Acheh dengan Batavia Air, pergantian menit kami melewatkan dengan menunggu jadwal bis yang membawanya ke bandara, dengan hisapan rokok dan sepiring nasi goreng untuknya, sepiring mie rebus untukku. kami bercakap-kapap mengusir kelunya malam.
Sesekali segerombolan anak muda, dan raungan motor dari club-club motor membisingkan telinga di minggu dini hari.
Dalam kepastianya mengenai apa yang telah dia putuskan, masih kulihat renungan-renungan mengenai apa yang terjadi dengan dirinya, sebuah persimpangan yang harus berani dia pilih. Saat kami harus berpisah, dia berpesan dalam setengah berbisik ” doakan Persib menang”, agar wawancaranya lancar. Dimana aku membuat candaan untuknya ”Persib menang kamu tidak bisa pulang, atau persib kalah kamu akan mendapatkan sulit untuk wawancara,tapi bisa pulang”. Lantas kami tertawa-tertawa untuk pengakhiran kita. Dia kembali lagi 4 hari kedepan, terhitung setelah tulisan ini dibuat. Ya, kawan ku doakan Persib menang agar kerjamu lancar. Selamat pagi dan selamat bekerja. Jangan lupa markisa Medan.


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home