Wednesday, February 14, 2007

Tidak Ada Kopi Digerimis Senja

Pertama-tama pemuda itu duduk diberanda rumahnya, tak seberapa lama dia meninggalkan berada itu dengan muka tak sedap, selidik punya selidik ternyata dia ketumpahan kopi hangat, susah payah dia bikin, pertama tidak ada gelas bersih satupun didapurnya, saat mencuci, yang sebelumnya hanya punya niatan untuk mencuci satu gelas saja, dia berubah pikiran, dia rapikan semuan gelas dan piring kotor didapur, mungkin itu adalah kontribusi positif untuk anggota rumah, tuntas sudah proses mencucinya.

Saat membuka laci dapur ibunya tak didapatkan gula yang dia butuhkan. Maka larilah ia kewarung sebelah, diwarung dia tidak mendapatkan gula (warung yang payah), pemilik warung selalu malas untuk mengurusi barang-barangnya. Pemilik warung itu lebih suka membuang waktunya untuk bermain kartu dengan pelanggannya. Sepertinya dia (pemilik warung) tidak pernah perduli dengan untung dari dagangannya, pemuda ini rupanya ingin sekali minum kopi hitam yang panas dengan air mendidih yang baru dianggkat dari kompor.

Mendapatkan barang yang dia cari tidak ada maka dia pergi, walaupun dia sempat ditawarin kopi mix susu dengan macam-macam merk. Dia tidak mau, dia hanya butuh kopi hitam kopi hitam yang pekat dan kental sedikit pahit, rasa-rasanya keinginan itu telah terpendam selama seminggu. Dan baru sempat dia bikin hari ini, sore hari dengan cuaca basah, dimana hujan sedari siang yang tiada henti-henti. Lapar, dia terbiasa lapar tapi dia tidak terbiasa menahan lebih lama keinginan kopi dan merokok.

Sebelum meninggalkan warung sipemilik warung yang zonder gula, dia (pemilik warung) sempat mencandainya “kamu cari gula atau cari pacar” dengan cengengesan khas pemilik warung, pemuda itu diam saja tanpa menimpali kata-katanya, dia melangkah membelah gerimis senja.

Tepat diwarung paling ujung dari jalan rumahnya dia mendapatkan kopi yang diinginkanya, dia tidak lagi mencari gula, akan tetapi dia lebih memilih kopi mix hitam. Meski diwarung yang ini ada gula. Sesampai dirumah tak pula ia dapati teremos air panas milik emaknya, dongkol benar hatinya, bikin kopi saja susah. Pertama dia nyalakan kompor gas emaknya, mondar-mandir sepertinya dia sedang mencari ketel untuk merebus air, tidak satupun ketel diketemukanya yang ada hanya wajan penggorengan.

Terlihat dia mulai otak-atik keran dapur untuk mengambi air setelah merebusnya beberapa lama dan jelas air mendidih, dia membaui sesuatu dalam air yang dimasaknya, airnya berbau, sambil memaki-maki apa yang telah terjadi dan yang telah dilakukanya, untuk bisa membikin hanya segelas kopi dia menemui kegagalan.

Nekat, pilihanya hanyalah nekad dengan membawa gelas kosong dan kopi sachetnya dia kewarung sebelah meminta air, pertama dia malu-malu, setelah tak ada lagi jarak untuk menganulir keinginanya dia meyakinkan dirinya untuk terus,” mas ada air panas”, “kopi pacarnya sudah dapat” sambil terkekeh-kekeh tak perduli dengan pemuda itu, terus saja dia main kartu “ ambil saja dekat toples permen karet paling kanan dekat kalender” (terusnya pemilik warung), setelah menuang air panas dia pamitan dan minta harga “ berapa mas”, “sudahlah, air saja kok harus dibeli”,(tak lupa sopan-santun) “ terimakasih, mas”. “Yoi” jawab pemilik warung genit, sebelum benar-benar meninggalkan warung , pemilik warung berseru “nanti malam nonton bola disini saja”. “ atur-atur lah” jawab pemuda itu sekenanya sambil terus melangkah.

Sampai dirumah dia menginginkan kopinya untuk dinikmati diberanda belakang rumahnya, disitu dia bisa melihat hujan dan merasakan dinginya sore dengan nyata. Agak berantakan, banyak koran dan kertas-ketas yang tidak jelas kegunaanya, dia taruh kopi dimeja dan mulai menarik kursi untuk mendapatkan posisi yang paling menyenagkan, sepintas ada berita dikoran yang menggelitik untuk dibacanya sambil melihat rintik-rintik hujan yang lucu, saat koran telah bergeser dan dalam jangkauan bacanya dia meloncat kaget, rupanya kopi tumpah seluruhnya, sebagian membasahi kertas dan koran sebagian membasahi bajuanya. Lantas dia bilang “Anjing”. Dengan membanting pintu dapur keras-keras. He is gone with grumpy.

Emaknya kemana? Abahnya kemana? Kakanya kemana? (andai ia punya kakak), adiknya kemana? (andai ia punya adik), pembantunya kemana? (andai ia punya pembantu). Dia sendiri tak punya siapa-siapa, yang dia punya hanya kesialan disore itu dan kepala penuh benang ruwet digerimis senja.

• Adakah benar-benar pemuda itu tidak memiliki siapa-siapa, selain kesialan dan kepala berisi benang ruwet.

• Mengapa dia bisa dengan cepat memutuskan pilihanya, bahwa sebelumnya dia memiliki pilihan akan tetapi pada kenyataanya dia tidak memilih apa yang sudah dia rencanakan, justru alternatif yang dia konkritkan.

• Benarkah pemilik warung tidak memikirkan keuntungan atas barang-barang yang dia jual, lalu bagaimana mengenai rumusan orang berdagang.

• Tenyata benar tidak ada ibu itu susah, hanya bikin kopi saja harus berputar-putar dulu dan itu pun tidak ada garansi untuk bisa dinikmati. Dan haruskah seseorang harus belajar melalui ibunya untuk benar-benar mengerti mengenai dapur.








0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home

  • Civil Code KUHPerdata
  • Penal Code KUHP
  • Constitution's