Laki-Laki Itu Keras Kepala
Menjadi laki-laki harus kuat seperti batu, digores dia tergores, dibanting ia meninggalkan luka. akan tetapi ia tetap kuat dan keras. Tetap keras dan kuat, tetap yakin dengan apa yang ia tuju saat ia mendapatkan konsekwensi tergores, tetap yakin dengan apa yang dituju saat ia mendapatkan konsekwensi dibanting. Ia tahu, ia akan tergores. Ia tahu, ia akan dibanting. Meski berimplikasi seperti itu, ia akan terus, dan kamu (perempuan) akan melihatnya dari luar, ia nampak baik-baik saja. Padahal tidak.
Dan saya tidak pernah tahu menjadi perempuan itu harus seperti apa, karena saya bukan perempuan dan tidak pernah merasa menjadi perempuan barang sedetik-pun, saya selalu berharap perempuan juga sekeras batu. Yakin dengan apa yang ia tuju meski harus digores, meski harus dibanting.
Yakinlah terus dengan tujuanmu, karena laki-laki selalu seperti itu, hanya mencoba memberanikan diri melangkah lebih jauh dan melangkah lebih jauh lagi, tak ada hal apapun yang lebih, selain dorongan untuk memberanikan diri.
Saat ia (laki-laki) jatuh dalam hidupnya ia akan “dicibir”, meski hatinya kecut, ia tak harus menangis dan ia terus melenggang dengan cibiran itu, saya tidak tahu dengan kamu (perempuan). Apakah saat kamu jatuh dalam hidupmu dan mengenai “cibiran” kamu akan menyimpan dalam-dalam itu, bila benar seperti itu, susah benar kamu akan melangkah. Karena waktumu dan caramu memahami masalah dirusak oleh “cibiran”, tidak lagi kamu sungguh-sungguh ingin keluar dari jatuhmu, lupakan itu. Dan melangkahlah dengan riang tanpa harus dibayang-bayangi “cibiran”.
Maaf saya hanya mengada-ada, tapi bila benar, semoga hidupmu kedepan, dan selamnya sampai kematian datang. digerakkan oleh semangat yang ingin terus mereguk makna kebaikan dari kehidupan ini.
Dan saya tidak pernah tahu menjadi perempuan itu harus seperti apa, karena saya bukan perempuan dan tidak pernah merasa menjadi perempuan barang sedetik-pun, saya selalu berharap perempuan juga sekeras batu. Yakin dengan apa yang ia tuju meski harus digores, meski harus dibanting.
Yakinlah terus dengan tujuanmu, karena laki-laki selalu seperti itu, hanya mencoba memberanikan diri melangkah lebih jauh dan melangkah lebih jauh lagi, tak ada hal apapun yang lebih, selain dorongan untuk memberanikan diri.
Saat ia (laki-laki) jatuh dalam hidupnya ia akan “dicibir”, meski hatinya kecut, ia tak harus menangis dan ia terus melenggang dengan cibiran itu, saya tidak tahu dengan kamu (perempuan). Apakah saat kamu jatuh dalam hidupmu dan mengenai “cibiran” kamu akan menyimpan dalam-dalam itu, bila benar seperti itu, susah benar kamu akan melangkah. Karena waktumu dan caramu memahami masalah dirusak oleh “cibiran”, tidak lagi kamu sungguh-sungguh ingin keluar dari jatuhmu, lupakan itu. Dan melangkahlah dengan riang tanpa harus dibayang-bayangi “cibiran”.
Maaf saya hanya mengada-ada, tapi bila benar, semoga hidupmu kedepan, dan selamnya sampai kematian datang. digerakkan oleh semangat yang ingin terus mereguk makna kebaikan dari kehidupan ini.


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home